|
<<Back
Enhancing the Economic Cooperation between Indonesia and the Philippines
in the
Energy Sector and other Investment Opportunities.


Pada tanggal 12 Juli 2006, bertempat di Dusit Hotel Nikko, Makati City,
Filipina, KBRI Manila telah menyelenggarakan seminar bertema Enhancing the
Economic Cooperation between Indonesia and the Philippines in the Energy Sector
and other Investment Opportunities. Dalam opening remarks dan keynote
speech, Duta Besar LBBP RI untuk Filipina dan Marshall Islands, Prof. DR. Irzan
Tandjung,mengatakan bahwa seminar ini memfokuskan pada kerjasama kedua negara
di bidang sumber daya energi alternatif. Di tengah tidak stabilnya pasar minyak
internasional dan tingginya harga minyak yang berdampak pada perekonomian
negara-negara berkembang, Indonesia menyambut baik setiap bentuk kerjasama
dengan negara lain termasuk Filipina.
Hadir sebagai pembicara pada seminar tersebut adalah Kepala Badan Koordinasi
Penanaman Modal, Muhammad Lutfi; Undersecretary Department of Energy, Guillermo
R. Balce; Sugiharto Harsoprayitno dan R. Priyono dari Departemen Sumber Daya
Energi dan Mineral; serta Wuryadi S.
Sodirsan dari PT. Pertamina.Dalam
paparannya, Kepala BKPM mengatakan bahwa Indonesia memiliki 40% sumberdaya
geothermal dunia dan merupakan produsen batu bara no. 8 terbesar di dunia.
Dengan perkiraan peningkatan pemakaian energi hingga 200% dan pemakaian listrik
hingga 350%, sumber energi terbarui menjadi fokus pengembangan teknologi
Indonesia dalam lima tahun ke depan. Untuk menarik investasi, berbagai insentif
investasi telah disiapkan, yaitu investment tax allowance, import duties
reduction for machinery, and equipment, import duties reduction for raw
material and supporting materials for the first two years, accelerated
depreciation, tax deductible, serta loss compensation and carry-forward loss. Di
sisi lain secara umum makro ekonomi Indonesia berjalan stabil yang diiringi
dengan meningkatnya kinerja ekonomi dan membaiknya situasi sosial politik
domestik, serta kuatnya komitmen Pemerintah RI dalam melindungi investasi asing.
Wuryadi S. Sodirsan dari PT. Pertamina menyebutkan bahwa Pertamina saat ini
terus melakukan peningkatan efisiensi dan efektivitas operasional untuk
meingkatkan kinerjanya. Kemitraan strategis merupakan kunci bagi strategi
pertumbuhan dalam rangka memenuhi permintaan energi domestik. Untuk itu,
kerjasama ataupun joint business development Indonesia dan negara lain pada
sektor perminyakan baik hulu maupun hilir merupakan satu strategi untuk
menjawab krisis energi di Indonesia.
Undersecretary Guillermo R. Balce menjelaskan bahwa dalam upayanya menjadi
energy independence, Filipina antara lain berupaya membentuk aliansi strategis
dengan negara-negara lain. Khusus mengenai hubungan antara Filipina dan
Indonesia, saat ini sedang diproses proposal kesepakatan bilateral di bidang
energi, yang antara lain berisikan pengiriman ahli geothermal Filipina ke
Indonesia dan suplai batubara Indonesia ke Filipina, dalam hal ini Philippine
National Oil Company dan National Power Corporation.
Sekitar 80 orang hadir pada kesempatan itu, antara lain Undersecretary for
Policy Departement of Foreign Affairs, Erlinda F. Basilio; Philippine Special
Envoy for BIMP-EAGA, Jend. Efren L. Abu yang turut memberikan kata sambutan;
Chairman of Mindanao Business Council, Virgilio L. Leyretana; serta CEO,
direktur, dan manajer dari berbagai sektor swasta Filipina.
Duta
Besar LBBP RI untuk Filipina dan
Marshall Islands, Prof. DR. Irzan
Tandjung membuka seminar bertema
Enhancing the Economic
Cooperation between Indonesia and
the Philippines in the Energy Sector
and other Investment Opportunities,
bertempat di Dusit Hotel Nikko,
Makati City, Filipina, 12 Juli 2006.
Kepala Badan
Koordinasi Penanaman Modal Bapak
Muhammad Lutfi sebagai pembacara
dalam Seminar
Enhancing the
Economic Cooperation between
Indonesia and the Philippines in the
Energy Sector and other Investment
Opportunities.
<<Back
|