<<Back
PIDATO
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DALAM MENYAMBUT TAHUN BARU 2006
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Saudara-saudara
se-bangsa dan se-Tanah Air yang saya cintai.
Beberapa
saat lagi kita akan meninggalkan tahun 2005. Kita
akan membuka sebuah lembaran baru, tanpa melupakan
perjalanan yang telah kita lalui sepanjang tahun 2005
ini. Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk
memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa atas berkah dan karunia-Nya, insya Allah kita
semua dapat menyaksikan terbitnya. matahari, yang
mengantarkan datangnya tahun 2006 pada esok hari.
Proses
peralihan waktu selalu mengajak kita untuk merenung
dan melakukan refleksi diri. Kita harus melihat kembali
apa yang telah kita lakukan sepanjang tahun 2005 ini,
dan dengan rendah hati menerima kekurangan dan kelemahan
yang ada. Dengan mengakui dan menerima kenyataan,
kita semua dapat tumbuh dan berkembang lebih maju
lagi, baik sebagai individu maupun sebagai sebuah
bangsa. Dengan kearifan dalam memandang masa lalu,
kita dapat menyambut masa depan dengan penuh semangat
dan harapan.
Tahun
2006 mengandung sejumlah tantangan dan peluang, juga
kecemasan dan harapan. Kita harus menghadapi semua
itu dengan sikap yang optimis, dengan memberikan yang
terbaik yang bisa kita berikan, dengan bekerja sekuat
tenaga, dan dengan tetap memohon perlindungan dan
rahmat dari Allah SWT.
Saudara-saudara,
se-bangsa dan se-Tanah Air,
Tahun
2005 yang baru saja kita lalui, bukanlah tahun yang
mudah. Sejak awal Januari 2005, kita sudah dihadapkan
pada kerja besar untuk menanggulangi dampak bencana
gempa bumi di Alor dan Nabire, serta gelombang Tsunami
yang melanda wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, Nias
dan sekitarnya. Seluruh kemampuan bangsa telah dicurahkan
untuk membantu saudara-saudara kita yang ditimpa musibah
tersebut. Solidaritas nasional dan internasional telah
memberikan sumbangan terbaiknya melalui bantuan kemanusian
untuk para korban. Kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan di daerah bencana tersebut, atas nama pemerintah
dan rakyat Indonesia saya mengucapkan terima kasih
dan penghargaan yang tinggi. Luapan solidaritas umat
manusia sedunia yang merebak setelah terjadinya bencana
di Aceh dan Nias membesarkan hati kita, serta membuktikan
bahwa umat manusia diikat oleh simpati dan tali persaudaraan,
untuk membantu mereka yang tertimpa musibah.
Selain
bencana alam, berbagai persoalan lain juga datang
silih berganti. Di bidang kesehatan kita berhadapan
dengan gejala merebaknya lumpuh layu (polio), demam
berdarah, kekurangan gizi, dan munculnya endemi flu
burung. Menghadapi situasi ini, Pemerintah telah menempuh
berbagai upaya secara maksimal, dengan mengadakan
vaksinasi polio secara nasional, pencegahan penularan
virus flu burung, perawatan gratis bagi pasien demam
berdarah yang tidak mampu, dan mengefektifkan kembali
kegiatan posyandu bagi ibu hamil atau menyusui dan
balita.
Masyarakat
pun telah turut berpatisipasi secara aktif, untuk
mencegah meluasnya berbagai penyakit tersebut. Namun,
kita perlu menyadari, bahwa sebagian besar dari upaya
bersama tersebut lebih banyak menyentuh aspek penanggulangan,
daripada aspek pencegahan. Kita masih perlu membangun
sistem dan menata diri lebih baik, termasuk memperjelas
pembagiali kewenangan dan tanggung jawab antara pemerintah
pusat dan pemerintah daerah, agar upaya pencegahan
dapat terbangun secara efektif.
Di
bidang keamanan, situasi selama setahun terakhir masih
diwarnai oleh letupan konflik horizontal dan aksi
terorisme. Meskipun pelaku-pelaku utama dari gerakan
terorisme telah berhasil dilumpuhkan, namun pekerjaan
besar belum selesai. Demikian pula, dalam upaya pemberantasan
jaringan narkoba, kita patut bersyukur, bahwa pihak
keamanan telah berhasil mengungkap serta memberantas
pusat pembuatan obat-obat terlarang tersebut. Tetapi
kita masih harus bekerja lebih serius dan lebih sistematis,
agar akar-akar penyebab dan faktor-faktor yang mendorong
terjadinya konflik, terorisme dan kejahatan narkoba
itu dapat kita hilangkan dari negeri yang kita cintai
ini.
Selain
berbagai persoalan yang ada, kita juga patut bersyukur,
bahwa penghentian konflik
bersenjata secara damai di Aceh telah dapat diwujudkan
dengan baik. Ini sebuah prestasi penting yang membesarkan
hati kita, sebuah prestasi yang juga diakui oleh dunia
internasional. Dengan inisiatif dan implementasi perdamaian
ini, kita dapat membangun Aceh lebih intensif lagi,
untuk meninggalkan masa lalu yang kelam dan membangun
masa depan yang lebih cerah.
Persoalan
di bidang ekonomi bermula, dengan meningkatnya tekanan
terhadap anggaran pemerintah, akibat lonjakan harga
minyak lebih dari dua kali lipat dari asumsi semula.
Situasi ini menghendaki dilakukannya penyesuaian harga
bahan baker minyak (BBM), karena beban subsidi menjadi
sangat besar, dan mengancam keberlangsungan anggaran.
Dengan
berat hati, keputusan untuk menaikkan harga BBM dua
kali dalam satu tahun harus diambil. Saya sungguh
mengerti, bahwa keputusan ini telah menambah beban
masyarakat. Pemerintah berusaha mengurangi beban itu,
dengan melaksanakan program-program kompensasi di
bidang kesehatan, pendidikan, penciptaan lapangan
kerja di perdesaan, dan subsidi langsung tunai kepada
kelompok masyarakat miskin. Saya sadar, program tersebut
tidak cukup untuk membebaskan seluruh beban masyarakat,
dan atas pengorbanan dan pengertian seluruh masyarakat,
saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya.
Kenaikan
harga BBM untuk pengurangan subsidi, tetah banyak
memperbaiki posisi anggaran, dan memulihkan kepercayaan
kepada pemerintah. Namun, akibat kebijakan tersebut,
inflasi meningkat cukup tajam dalam dua bulan terakhir.
Inflasi yang tinggi tentu mengurangi daya beli rakyat,
dan mengancam keberlanjutan pertumbuhan ekonomi, sehingga
pemerintah harus mengembalikan stabilitas ekonomi,
seraya terus menerus meningkatkan pertumbuhan ekonomi
kita, sebagai prasyarat bagi upaya pengurangan kemiskinan
dan pengangguran. Untuk menjaga inflasi, ketersediaan
pasokan dan kelancaran distribusi barang-barang strategis
termasuk makanan harus dijaga. Dalam pengendalian
inflasi, kerjasama yang lebih erat dan harmonis dengan
Bank Indonesia merupakan hal yang mutlak dilakukan.
Tantangan
pembangunan ekonomi dan sosial yang kita hadapi memang
tidak ringan, dan tidak semakin mudah. Tingkat pertumbuhan
yang kita capai tahun-tahun terakhir ini, belum cukup
untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran
seperti yang kita harapkan. Langkah pertama yang akan
pemerintah ambil adalah, mengefektifkan instrumen
fiskal untuk mencegah perlambatan, dan mengembalikan
arah dari pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang cukup
tinggi. Luncuran anggaran 2005 dan pelaksanaan belanja
negara 2006, akan menjadi sumber pertumbuhan pada
awal tahun depan.
Selanjutnya,
peranan swasta dan masyarakat menjadi penting, guna
menopang pertumbuhan ekonomi 2006, seiring dengan
membaiknya kepercayaan. Untuk mencapai itu, langkah-Iangkah
perbaikan iklim investasi yang telah dilakukan, akan
terus ditingkatkan intensitasnya secara terukur dan
sistematis. Prioritas kebijakan akan ditujukan pada
perbaikan kebijakan dan administrasi perpajakan, kepabeanan,
peraturan ketenagakerjaan dan pengurangan ekonomi
biaya tinggi, melalui langkah-langkah deregulasi dan
debirokratisasi. Langkah-langkah perbaikan fundamental
tersebut, kita yakini akan mampu membawa ekonomi Indonesia
menjadi lebih baik dan kokoh, dalam menghadapi goncangan
eksternal maupun internal.
Perbaikan
kesejahteraan rakyat akan terus dilakukan, antara
lain melalui revitalisasi sektor pertanian, perikanan,
dan kehutanan, serta pengembangan usaha kecil dan
menengah. Peningkatan pendapatan petani, nelayan,
peternak, pekebun dan petani hutan, serta masyarakat
di perdesaan, dilakukan dengan mengalokasikan sumber
daya dan dana yang signifikan untuk memperbaiki fasilitas
infrastruktur perdesaan, serta meningkatkan produktifitas
pertanian. Upaya ini memang perlu didukung dengan
kebijakan sektor pertanian yang baik.
Perbaikan
kualitas sumber daya manusia Indonesia merupakan keniscayaan
bagi bangsa ini untuk menjawab tantangan pembangunan
dan untuk menghadapi globalisasi. Bidang kesehatan
dan pendidikan, merupakan dua pilar utama pembangunan
sumber daya manusia. Menurunnya gizi dan berbagai
penyakit seperti polio, demam berdarah, TBC, HIV-AIDS
dan akhir-akhir ini flu burung, tentu menurunkan derajat
kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, kita perlu
terus melakukan langkah-langkah yang serius untuk
menangani permasalahan ini.
Ketahanan
pangan perlu terus kita pelihara dan tingkatkan. Terlebih
dengan merebaknya masalah kerawanan pangan dan gizi
buruk, seperti yang dialami oleh saudara-saudara kita
di NTT dan Kabupaten Yahukimo, Papua. Penanganan masalah
itu akan terus kita lakukan secara serius, terpadu
dan terkoordinasi, dengan melibatkan pemerintah daerah
dan lembaga-lembaga masyarakat.
Saudara-saudara
se-bangsa dan se-Tanah air, yang saya cintai,
Meski
di tahun ini kita menghadapi banyak tantangan dan
persoalan, namun kita juga mencatat berbagai kemajuan
yang menggembirakan di berbagai bidang. Kita berhasil
melangkah maju dalam penegakan hukum, seperti dalam
reformasi peradilan yang dicanangkan oleh Mahkamah
Agung, pemberantasan judi dan premanisme di segenap
penjuru tanah air, pemberantasan produksi dan peredaran
narkoba, serta langkah-langkah pemberantasan illegal
logging, illegal fishing dan penyelundupan BBM. Namun
belum saatnya kita berpuas diri. Tugas-tugas besar
masih menanti di tahun depan, agar kemajuan-kemajuan
yang ada itu, dapat terus kita tingkatkan.
Pemberantasan
korupsi juga mengalami kemajuan yang menggembirakan.
Kepolisian, Kejaksaan Agung, Tim Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi, dan Komisi Pemberantasan Korupsi telah
memulai langkah pemberantasan korupsi secara sistematis,
dengan tetap memperhatikan tatanan dan proses penegakan
hukum yang berlaku. Langkah-langkah ini membuktikan
bahwa zaman telah berubah. Di masa yang lalu, amat
langka seorang pejabat negara, gubernur, bupati, wali
kota dan anggota DPR yang dibawa ke pengadilan dan
dijatuhi hukuman. Sekarang, semua sudah berbeda. Sebagai
Presiden saya telah menandatangani 63 surat perintah
pemeriksaan dan penahanan pejabat negara yang diduga
melakukan korupsi. Sambil tetap mempertahankan asas
praduga tak bersalah, aparat-aparat penegak hukum
kita sudah semakin intensif dalam tugas mulia mereka
memberantas korupsi. Di sisi lain, yang juga memberikan
harapan yang nyata, upaya pencegahan terhadap terjadinya
korupsi telah mulai membuahkan hasil. Dari laporan
yang saya terima, serta hasil pemeriksaan saya di
berbagai instansi baik pusat maupun daerah, iklim
takut melakukan korupsi mulai nampak, meskipun belum
kuat benar. Saya benar-benar menginginkan terwujudnya
pemerintahan yang bersih, efisien dan bebas korupsi.
Pemerintah
tidak mungkin bekerja sendiri dalam memerangi korupsi.
Dalam hal ini saya ingin menyampaikan terima kasih
kepada segenap masyarakat yang telah membantu pemerintah,
baik langsung maupun tak langsung, dalam proses penegakan
pemerintahan yang bersih. Hanya dengan dukungan masyarakatlah
cita-cita mulia untuk menciptakan pemerintahan yang
bersih, dan tata pemerintahan yang baik dapat diwujudkan.
Kita
juga patut bersyukur bahwa kehidupan demokrasi di
Tanah Air semakin bertambah dewasa. Masyarakat semakin
terbiasa dengan perbedaan pendapat. Daya kritis masyarakat
terus meningkat dan semakin berkualitas, dengan semakin
terjaganya kebebasan pers. Selain itu, pada tahun
ini kita juga telah berhasil menyelenggarakan proses
pemilihan kepala daerah secara langsung (Pilkada)
di 11 propinsi, 180 kabupaten dan 35 kota. Hal ini
pertama kali terjadi dalam sejarah kita. Dengan semua
ini, kita berharap bahwa pemerintahan di tingkat lokal
bisa lebih efektif, akuntabel, dan responsif terhadap
persoalan-persoalan lokal yang ada.
Tentu,
karena bciru pertama kalinya dilakukan, masih banyak
ketidaksempurnaan dalam penyelenggaraan maupun dalam
penetapan hasil Pilkada di beberapa daerah. Karena
itu, saya mengajak semua pihak untuk menaati aturan-aturan
yang ada, sambil terus menyempurnakan berbagai peraturan
dan mekanisme yang lebih adil, terbuka dan efektif.
Terkait
dengan akuntabilitas politik dan peningkatan kualitas
demokrasi, maka reformasi birokrasi tidak dapat ditunda-tunda.
Upaya ini mencakup perbaikan kapasitas dan produktivitas,
serta peningkatan disiplin dan etos kerja, serta perbaikan
penggajian. Dengan mengutamakan golongan menengah
ke bawah, direncanakan dilakukan peningkatan gaji
pegawai negeri, anggota Polri dan TNI, serta pemberian
gaji ke-13 dan pengangkatan pegawai-pegawai honorer.
Kebijakan ini seiring dengan pemberian bantuan kepada
warga masyarakat bukan pegawai, seperti pengurangan
biaya pendidikan, kesehatan, dan bantuan tunai langsung
kepada kaum miskin.
Dalam
soal penanganan, pelaksanaan dan pembangunan hak-hak
asasi manusia (HAM), intensitas pelanggaran jauh menurun
dalam tahun 2005 dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Dengan ini kita patut berbangga, bahwa Indonesia telah
semakin menegakkan martabat dan hak-hak dasar warganya.
Kita perlu meningkatkan lagi upaya mulia ini, dengan
menuntaskan berbagai kasus pelanggaran HAM yang serius
di masa lalu, sambil terus memperkuat pilar-pilar
kelembagaan, yang menjadi penyangga pembangunan hak-hak
asasi manusia.
Keberhasilan
kita dalam meningkatkan demokrasi dan HAM, memiliki
dampak penting lain, seperti meningkatnya kepercayaan
dunia kepada kita, serta dalam mendorong peningkatan
peran Indonesia dalam kerjasama internasional. Kita
telah berhasil menyelenggarakan KTT ASEAN untuk tsunami
dan KTT Asia-Afrika. Kita juga telah berperan aktif
dalam meningkat kerjasama regional, baik melalui forum
Asean maupun forum lainnya. Di forum dunia, kita,
juga telah berperan aktif dalam memberikan. sumbangan
pemikiran bagi reformasi PBB dan pencapaian Millenium
Development Goal, atau sasaran pembangunan se dunia
dalam millenium baru. Ke depan, sebagai pelaksanaan
dari amanat konstitusi yang kita junjung tinggi, peran
positif di panggung dunia semacam itu akan terus kita
dorong dan tingkatkan.
Saudara-saudara
se-bangsa dan se-Tanah Air.
Saya
mengajak seluruh bangsa, untuk memulai tahun 2006
dengan semangat kebersamaan yang lebih kokoh, membangun
rasa saling percaya, dengan hati yang lebih tegar,
dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi, dan dengan
optimisme yang semakin kuat. Kita berharap dan tentunya
berupaya dengan sungguh-sungguh, agar tahun 2006 lebih
baik dari tahun 2005. Kita berupaya tahun 2006 ini
kita dapat mencapai keberhasilan yang lebih banyak,
dalam upaya memperbaiki kondisi masyarakat, bangsa
dan negara.
Untuk
itu saya tak henti-hentinya mengajak segenap komponen
bangsa, untuk memperkuat rasa persatuan dan kebersamaan.
Mari melangkah bersama dan bekerja keras untuk mengatasi
berbagai permasalahan bangsa. Dengan komitmen dan
modal utama ini, Insya Allah tahun 2006 akan menjadi
tahun harapan, menyongsong hari depan kita semua.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa menuntun dan
menyertai bangsa kita, dalam berjuang membangun hari
esok yang lebih baik.
Terima
kasih
Wassalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 31 Desember 2005
Presiden Republik Indonesia
Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
<<Back