Harapan: Facing
Possibilities in Indonesian and
Philippine Modernity
Bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober
2008 telah dilakukan pembukaan eksibisi karya seni
lukisan Indonesia dan Filipina di National
Museum of the Filipino People, Manila yang akan
berlangsung hingga 23 November 2008. Lima belas
lukisan koleksi Galeri Nasional Indonesia karya
Affandi, Agus Djaya, Basuki Abdullah, Dede Eri
Supria, Fadjar Sidik, Hendra Gunawan, Ivan Sagita,
Kartono Yudhokusumo, Lucia Hartini, Otto Djaya,
Srihadi Soedarsono, dan Sudjojono telah mengundang
kekaguman para pengunjung dari berbagai kalangan
masyarakat. Kegiatan ini dilengkapi pula dengan
round table discussion pada 29 Oktober 2008 yang
terbuka untuk umum.
Pihak Filipina juga telah
memajang koleksi lukisan terbaiknya karya pelukis
Filipina ternama seperti Diosdado Lorenzo, Simon
Flores, Jose Joya, Danilo Dalena, Pablo Baens
Santos, Hernando R. Ocampo, Roberto Chabet, Ramon
Estela, Martino Abellana, Nena Saguil, Rafael
Enriquez, Felix Martinez, David Cortez Medalla,
Nuneklucio Alvarado dan Cecar Legaspi.
Yang paling menarik perhatian
pengunjung adalah bahwa lukisan-lukisan tersebut
dipajang secara “face to face” sehingga
pengunjung dapat menikmati bagaimana para pelukis
kedua bangsa bertemu melalui karya-karya besar
mereka yang menggambarkan kehidupan sesuai
interpretasi dan perspektif masing-masing. Misalnya,
karya Affandi “Pengemis” 1974 bertemu
dengan karya Diosdado Lorenzo “Ang Pulubi”
(Pengemis) 1946, dan karya Basuki Abdullah “Kakak
dan Adik” 1978 bersua dengan “Mother and Child”
1954 karya Cesar Legaspi.
Baik Kepala Galeri Nasional
Indonesia Tubagus Andre Sukmana maupun Direktur
National Museum of the Filipino People Corazon
S Alvina sependapat dengan pandangan Duta Besar RI
di Manila Prof. Dr. Irzan Tandjung bahwa Eksibisi
bertema “Harapan: Facing Possibilities in
Indonesian and Philippine Modernity” ini
merupakan salah satu upaya penting untuk terus
memperkokoh hubungan bilateral dan saling pengertian
diantara kedua negara dan bangsa melalui kerjasama seni dan budaya. Karena itu, kegiatan ini akan
dilanjutkan dengan eksibisi serupa di Jakarta pada
tahun depan. Selain itu, eksibisi ini juga telah
memberikan makna antara lain adanya kesempatan
penting bagi masyarakat Filipina untuk memahami
referensi tipologis, kerangka teoritis, dan
parameter komparatif diantara dua tradisi seni
moderen dan terjalinnya kolaborasi antara kedua
galeri seni nasional untuk yang pertama kalinya
dalam eksibisi seni lukis yang menggambarkan aspek
modernitas di kedua negara sehingga menerobos
batas-batas sejarah seni nasional dan merenungkan
prospek paradigma lintas budaya dalam praktek dan
teori seni di Asia Tenggara.