About the Embassy |

Consular and Visa Services

| | | |
 

 

 

<<Back

 

 

Negara-negara Asia dan Eropa Mencapai Berbagai

Kemajuan Dalam Hal KontraTerorisme

 

Demikian salah satu kesepakatan yang antara lain dicapai pada pertemuan the 7th ASEM Conference on Counter-Terrorism (ASEM CCT7) di Manila, Filipina pada tanggal 22-23 Juni 2009. Namun disadari pula bahwa terorisme masih merupakan ancaman bagi upaya pengembangan perdamaian dan keamanan di kedua kawasan tersebut. Dalam hal ini, terorisme bersifat multifaceted dan disebabkan oleh antara lain perceived international justice, poverty, underdevelopment dan extrimism. Di samping itu, seluruh delegasi kembali menegaskan penolakan terhadap keterkaitan antara terorisme dengan agama, ras, kewarganegaraan atau kelompok etnis tertentu.

 

Munculnya trend baru dalam terorisme, yakni penggunaan internet sebagai sarana rekrutmen serta penyebaran propaganda/ajaran-ajaran agama yang menyimpang dan memicu aksi-aksi teroris telah mendapat perhatian dari para negara mitra ASEM. Untuk itu, disamping melalui strategi tradisional seperti halnya law enforcement, pertukaran informasi dan intelligence gathering, negara-negara ASEM juga sepakat untuk memperluas dan meningkatkan upaya menanggulangi penyebaran terorisme melalui pengembangan strategi yang bersifat konstruktif dan non-konvensional, termasuk di antaranya dialog lintas agama dan budaya, program deradikalisasi, dan dialog lintas media, serta pengembangan studi atau penelitian yang terkait dengan cyber terrorism.

 

ASEM CCT7 dihadiri oleh 28 negara anggota dari 45 mitra ASEM dari Asia dan Eropa. ASEM CCT7 dibuka oleh Executive Secretary dan Chairperson of the Anti-Terrorism Council Filipina, Eduardo Ermita, yang menyampaikan bahwa pertemuan tersebut merupakan kesempatan bagi negara-negara mitra ASEM untuk memperbaharui aliansi strategis dan komitmen kerjasama dalam bidang kontra-terorisme.

 

ASEM CCT7 dihadiri perwakilan dari lembaga-lembaga regional dan internasional yakni UN-CTED, UNODC, UNCTIF, Council of Europe, Council of the European Union, Interpol, dan ICAO. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur KIK Amerika dan Eropa Departemen Luar Negeri RI dengan anggota terdiri atas wakil-wakil dari DKPT Kemenko Polhukam, Densus 88/AT Mabes Polri, Ditjen Imigrasi, Bakorkamla, BIN, dan KBRI Manila. Pertemuan ASEM CCT7 merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya di Beijing (2003), Berlin (2004), Semarang (2005), Copenhagen (2006), Tokyo (2007), dan Madrid (2008).

 

Pertemuan ASEM CCT7 kali ini menitikberatkan pada upaya untuk mendukung United Nations Global Counter-Terrorism Strategy (UNGCTS) khususnya pilar ketiga, yakni upaya untuk meningkatkan kapasitas dari masing-masing negara mitra ASEM untuk mencegah dan menanggulangi terorisme, khususnya dalam sektor transportasi. Pertemuan menyepakati bahwa guna menanggulangi terrorisme yang terus berkembang, maka legislasi nasional tiap negara senantiasa diselaraskan dengan hukum internasional.

 

Negara-negara mitra ASEM juga membahas mengenai berbagai upaya kontra-terorisme yang dilaksanakan dalam sektor transportasi maritim, udara dan darat. Disamping mengupas kerangka hukum nasional, pertemuan ASEM CCT7 juga mengeksplorasi berbagai konvensi dan protokol internasional yang terkait dengan ketiga aspek tersebut.  

 

Kontribusi Indonesia

 

Indonesia telah berperan sebagai Co-Sponsor dan menjadi Lead Speaker pada pertemuan ASEM CCT7 tersebut, khususnya pada Sesi 1 (Terrorist Threat Assesment in Asia and Europe) dan pada Sesi V (Best Practices in National Counter Terrorism Action Plans). Pada sesi I, delegasi RI mengemukakan perkembangan terkini ancaman terorisme di Asia Tenggara, utamanya di Indonesia serta upaya-upaya yang telah dilakukan dalam menangani masalah terorisme di Indonesia antara lain dengan memperkuat peran kaum moderat, dialog intra dan inter agama, meningkatkan kerjasama regional dan internasional dengan negara lain dan institusi terkait dengan upaya kontra terorisme serta meningkatkan program deradikalisasi. Selain itu disinggung pula masalah cyber terrorism yang diperkirakan akan menjadi ancaman terbesar di masa mendatang.

 

Dalam sesi V, delegasi RI memaparkan pengalaman dan strategi di lapangan yakni upaya yang telah dilaksanakan Indonesia guna mencegah, memberantas, dan merubah tindak terorisme. Dalam konteks ini Indonesia telah menerapkan suatu pendekatan komprehensif yang sifatnya to win the heart and mind of the people. Indonesia juga menyinggung peran kerjasama internasional khususnya dengan negara-negara tetangga guna memberantas terorisme baik yang sifatnya intelijen, operasional, maupun peningkatan kapasitas.

 

Pertemuan ASEM Conference on Counter Terrorism selanjutnya akan diadakan di Eropa pada tahun 2010. Hasil dari pertemuan konperensi ini berupa Chair’s Summary akan disampaikan pada KTT ASEM ke-8 di Brussels, Oktober 2009.

 

 

 

 

<<Back

___________________________________________________________________