Pada 7 November
2008 KBRI Manila membantu pemulangan
18 ABK WNI yang bekerja di kapal
penangkap ikan berbendera Taiwan
dari pelabuhan Aparri, Filipina,
menuju Jakarta. Lima belas (15) dari
delapan
belas (18) ABK kehilangan paspor
karena kapal tempat mereka bekerja
terbakar akibat meledaknya kompor
gas pada saat berada di perairan
Fujian, Cina.
Nama ke-18 ABK
tersebut adalah Dedi Setiawan (asal
Tegal), Riyanto (asal Tegal),
Hasanudin (asal Pekalongan), Jemy
Maipauw (asal Bitung), Kasmuni (asal
Pemalang), Damiri (asal Pemalang),
Samsul Falah (asal Brebes), Mas
Setio Sriwibowo (asal Tegal),
Suparman (asal Pemalang), Slamet
Riyanto (asal Tegal), Purwanto (asal
Pemalang), Suriantoh Latadang (asal
Bitung), Suparto (asal Indramayu),
Yatin Dana (asal Pemalang), Supadu (asal
Cirebon), Mohamad Sarkim (Pemalang),
Frans Tarukbua (asal Bitung) dan
Rudin (asal Pemalang).
Satu ABK bernama
Nurokhim, lahir di Pekalongan 21
Maret 1984, hilang pada saat
terjadinya kebakaran dan hingga saat
ini tidak diketahui nasibnya .
Sebagian besar ABK belum menerima
gaji yang berkisar antara 2 sampai
10 bulan.
Ke-18 ABK tiba di
Pelabuhan Aparri, Filipina, pada 6
November 2008 sore hari dengan kapal
berbendera Taiwan, Tay Shyang Tsair.
Untuk proses pemulangan mereka ke
Indonesia, KBRI mengeluarkan 15 SPLP.
Setelah proses pemeriksaan kesehatan
dan keimigrasian selesai dilakukan
oleh Imigrasi setempat, ke-18 ABK
berangkat menuju Manila pada malam
harinya dengan bis yang disewa
secara khusus oleh pihak perusahaan
Taiwan. Pada 7 November 2008 pagi
hari ke-18 ABK tiba di Manila dan
pada malam harinya mereka berangkat
menuju Jakarta dengan penerbangan
Cebu Pacific. Biaya keimigrasian,
transportasi Aparri-Manila, tiket
pesawat, terminal fee dan
uang saku sebesar US$ 20/ABK
ditanggung sepenuhnya oleh pihak
Taiwan.
Proses pemulangan
ke-18 ABK ke Indonesia berjalan
dengan lancar berkat adanya
kerjasama yang baik antara KBRI
Manila dengan Imigrasi Manila dan
Aparri serta dengan pihak wakil
perusahaan Taiwan.
KBRI Manila akan
bekerjasama dengan Perwakilan RI di
Beijing, Hong Kong dan Taipei untuk
mendapatkan informasi lebih lanjut
mengenai nasib ABK bernama Nurokhim.
Sementara itu KBRI Manila dengan
kerjasama instansi terkait di
Jakarta akan membantu penyelesaian
gaji ABK yang belum dibayarkan pihak
perusahaan.